Karhutla Raja Ampat Bakar 7,2 Hektare, Homestay Sepi dan Air Bersih Menipis
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Dayan Bonder, Distrik Batanta Utara, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, meluas di tengah kemarau berkepanjangan yang dipengaruhi fenomena El Niño. Dampaknya tidak hanya mengancam ekosistem hutan, tetapi juga melumpuhkan aktivitas wisata dan mengganggu kebutuhan air bersih warga.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat luas lahan yang terbakar mencapai 7,2 hektare pada awal September 2026. Kebakaran pertama kali terdeteksi pada 2 September sekitar pukul 03.00 WIT. Api kemudian kembali muncul di sejumlah titik pada akhir bulan yang sama.
Dampak kebakaran mulai dirasakan pelaku usaha wisata di Pulau Batanta. Pemilik Batanta Paradise Homestay, Ketsya Kolomsusu, mengatakan tidak ada tamu yang menginap selama sekitar satu bulan terakhir karena wisatawan membatalkan kunjungan setelah mengetahui adanya kebakaran.
“Untuk aktivitas wisata di laut memang tidak terganggu dengan asap kebakaran. Tapi, untuk tamu di homestay sudah tidak ada lagi selama satu bulan ini,” kata Ketsya.
Bersama keluarganya, Ketsya mengelola empat bungalo dan satu restoran. Usaha tersebut dikembangkan setelah suaminya, Hendrik Saleo, memperoleh akses dana bergulir EcoFund dari Yayasan EcoNusa pada akhir 2024.
Kondisi sepinya kunjungan wisatawan membuat keberlangsungan usaha mereka ikut terdampak.
“Kami sangat butuh tamu,” ujarnya.
Kekeringan Bikin Warga Kesulitan Air Bersih
Selain sektor pariwisata, kemarau panjang turut mengganggu pasokan air bersih di Pulau Batanta. Sumur milik keluarga Ketsya berubah menjadi asin sehingga air untuk memasak harus diambil dari mata air di pulau seberang.
Kondisi serupa dilaporkan dialami masyarakat di wilayah Batanta Utara dan Batanta Selatan. Minimnya hujan membuat warga kesulitan mendapatkan sumber air yang layak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Koordinator Wilayah Pulau Batanta, Wilhemus Mayor, mengatakan kondisi kekeringan yang terjadi saat ini tidak biasa dialami masyarakat setempat.
“Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Hampir enam bulan, hujan baru turun sekali,” kata Wilhemus.
Dampak kemarau juga dirasakan para petani di Kampung Wailebet, Distrik Batanta Selatan. Tanaman kakao milik warga mengalami kerusakan pada buah, sementara daunnya mulai menguning akibat kondisi lingkungan yang kering.
Situasi tersebut memperlihatkan dampak berantai dari kemarau panjang, mulai dari meningkatnya risiko kebakaran hingga terganggunya sumber penghidupan masyarakat.
BPBD dan Warga Berupaya Padamkan Api
Penanganan kebakaran di Pulau Dayan melibatkan BPBD Papua Barat Daya, masyarakat setempat, serta pemilik usaha homestay. BPBD tiba di lokasi dua hari setelah kebakaran terdeteksi dan melakukan penanganan selama 14 hari.
Warga turut membantu proses pemadaman untuk mencegah api meluas ke kawasan lain. Sementara itu, Yayasan EcoNusa memberikan dukungan berupa pompa air, selang pemadam, dan bahan bakar guna menunjang upaya penanganan di lapangan.
Keterlibatan berbagai pihak menjadi penting mengingat kondisi geografis pulau dan keterbatasan sumber air dapat menyulitkan proses pemadaman, terutama ketika kemarau masih berlangsung.
Ekosistem Hutan Batanta Ikut Terancam
Kebakaran di Pulau Dayan Bonder juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kelestarian lingkungan. Pulau tersebut merupakan bagian dari ekosistem pendukung Hutan Lindung Pulau Batanta yang menjadi habitat berbagai jenis satwa dan tumbuhan.
Sejumlah satwa dan vegetasi yang hidup di kawasan tersebut antara lain kakatua raja, kuskus, pohon matoa, dan kayu besi. Kebakaran yang meluas berpotensi merusak habitat serta mengganggu keseimbangan ekosistem setempat.
Ancaman tersebut semakin menjadi perhatian karena kebakaran terjadi bersamaan dengan kekeringan yang berlangsung dalam waktu panjang.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fenomena El Niño dapat berlangsung hingga awal 2027 dan berpotensi memundurkan awal musim hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Kondisi itu membuat upaya pencegahan kebakaran dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat perlu terus diperkuat, terutama di wilayah yang rentan mengalami kekeringan.
Yayasan EcoNusa menyatakan terus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dan mitra lokal dalam menghadapi dampak kondisi tersebut. Dukungan diarahkan pada pemenuhan kebutuhan air dan pangan, layanan kesehatan, serta penanganan kebakaran.
Dengan kemarau yang masih berpotensi berlangsung, perlindungan ekosistem Pulau Dayan dan pemenuhan kebutuhan dasar warga menjadi tantangan yang perlu ditangani secara berkelanjutan. (AD)
Foto: Istimewa







