Kemenag Tanamkan Ekoteologi Lewat Kurikulum Cinta di Sekolah

Kementerian Agama (Kemenag) mengembangkan Kurikulum Cinta yang mengusung pendekatan ekoteologi untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini. Program ini mendorong peserta didik membangun hubungan yang harmonis antara manusia, Tuhan, dan alam.

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan kurikulum tersebut telah dirancang selama satu tahun terakhir. Penerapannya diharapkan mampu mengubah pola pikir generasi muda agar lebih peduli terhadap makhluk hidup dan tidak memandang alam semata-mata sebagai sumber eksploitasi.

Hal itu disampaikan Nasaruddin dalam acara “Tobat Ekologis Menuju Sekolah Adiwiyata” di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Senin. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 650 siswa SD, SMP, SMA, dan sederajat dari berbagai daerah di Indonesia.

Menurut Nasaruddin, evaluasi yang melibatkan ratusan pengawas madrasah dan pondok pesantren menunjukkan adanya perubahan perilaku di kalangan pelajar dalam memperlakukan makhluk hidup.

“Kini muncul kesadaran baru di kalangan pelajar untuk memperlakukan makhluk hidup lain dengan penuh kasih sayang,” kata Nasaruddin.

Ia mencontohkan seorang siswa sekolah dasar yang merasa tidak tega membunuh nyamuk karena memikirkan kelangsungan hidup anak-anak nyamuk tersebut. Ada pula anak-anak yang dengan sukarela memberi makan dan merawat hewan peliharaan milik tetangga yang sedang mudik.

Bagi Nasaruddin, contoh tersebut menunjukkan tumbuhnya empati anak terhadap makhluk hidup, termasuk yang selama ini kerap dianggap sepele.

Tanamkan Prinsip Hidup Berdampingan dengan Alam

Nasaruddin menjelaskan Kurikulum Cinta berupaya memperluas pemahaman kasih sayang, tidak hanya dalam hubungan antarmanusia, tetapi juga terhadap tumbuhan dan hewan.

Ia mengaitkan pendekatan tersebut dengan konsep Tat Tvam Asi, sebuah ungkapan yang dikenal dalam tradisi Hindu yang secara umum bermakna “Engkau adalah aku, aku adalah engkau”.

Prinsip itu, menurutnya, dapat menjadi landasan untuk membangun kesadaran bahwa kehidupan manusia saling terhubung dengan makhluk hidup dan lingkungan sekitarnya.

Melalui pendidikan tersebut, Kemenag ingin membentuk generasi yang tidak hanya memahami pengetahuan keagamaan, tetapi juga menerapkannya dalam perilaku menjaga lingkungan.

Kemenag juga menyatakan dukungannya terhadap upaya Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dalam mendorong pelestarian ekosistem secara berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat.

Menag Singgung AI dan Suara Tumbuhan

Dalam kesempatan itu, Nasaruddin turut menyinggung perkembangan sains modern dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang dinilainya dapat memperluas pemahaman manusia terhadap kehidupan alam.

Ia merujuk pada kajian tentang hubungan manusia dengan alam, termasuk gagasan yang dibahas Karen Armstrong dalam bukunya, The Sacred Nature.

Nasaruddin menyebut teknologi tertentu dapat membantu mendeteksi dan memperkuat sinyal atau getaran yang dihasilkan tumbuhan sehingga lebih mudah diamati manusia.

“AI juga membuktikan bahwa tumbuh-tumbuhan itu semuanya bersuara. Ada AI yang mampu melipatgandakan 20.000 kali suara itu dan ternyata suara dedaunan itu ditemukan bertasbih. Jadi mari kita kembali bersahabat dengan alam. Jangan menjadikan alam itu hanya sebagai objek, tapi jadikan sebagai partner dalam mendukung kesejahteraan hidup kita bersama,” ujar Nasaruddin.

Pernyataan mengenai tumbuhan yang bertasbih tersebut merupakan penafsiran religius Nasaruddin. Sementara itu, sinyal akustik atau getaran tumbuhan yang terdeteksi melalui perangkat ilmiah tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa tumbuhan mengeluarkan suara dalam pengertian bahasa manusia ataupun bertasbih secara ilmiah.

Melalui Kurikulum Cinta, Kemenag berharap kesadaran ekologis dapat tumbuh sejak bangku sekolah dan menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari peserta didik, baik di lingkungan pendidikan maupun di tengah masyarakat. (AD)

Foto: Istimewa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup