Budaya Lokal Kaltim Diperkuat, Cagar Budaya hingga Kuliner Diusulkan ke Tingkat Nasional

Pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Timur (Kaltim) terus memperkuat tiga pilar utama kebudayaan daerah sebagai identitas khas provinsi tersebut, yakni budaya pedalaman, budaya keraton, dan budaya pesisir.

Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kaltim, Sih Sudiyono, mengatakan ketiga unsur tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga keberagaman sekaligus mempertegas karakter budaya Kalimantan Timur di tingkat nasional.

“Keragaman budaya Kalimantan Timur bertumpu pada kebudayaan suku pedalaman, tradisi keraton, dan masyarakat pesisir,” ujar Sudiyono di Samarinda, Sabtu (23/5/2026).

Ia menjelaskan, pilar budaya pedalaman merepresentasikan kekayaan tradisi luhur masyarakat Dayak yang selama ini hidup berdampingan secara harmonis dengan alam dan hutan. Salah satu bentuk pelestarian budaya tersebut terlihat melalui tradisi pesta panen Lom Plai di Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, serta penguatan berbagai agenda budaya Dayak Kenyah di Desa Budaya Pampang, Samarinda.

Sementara itu, pilar budaya keraton menjadi simbol warisan sejarah kerajaan yang masih terjaga hingga kini, termasuk peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang terus dilestarikan sebagai bagian penting dari identitas daerah.

“Nilai-nilai adiluhung dari kerajaan bersejarah harus terus dijaga eksistensinya agar tetap relevan bagi generasi masa kini,” katanya.

Adapun pilar budaya pesisir mencerminkan kehidupan masyarakat perairan yang terbuka terhadap akulturasi budaya melalui jalur perdagangan sungai maupun laut. Salah satu tradisi yang masih lestari adalah ritual Pelas Laut di Desa Sekerat, Kutai Timur.

Dalam upaya menjaga warisan peradaban tersebut, Disdikbud Kaltim juga terus mendorong penetapan berbagai situs sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional melalui kajian akademis bertahap dan komprehensif.

Sejumlah situs yang telah resmi ditetapkan sebagai cagar budaya nasional antara lain Museum Mulawarman, Museum Sadurengas, Lamin Mancong, serta Masjid Jami’ Aji Amir Hasanuddin.

Tak hanya fokus pada pelestarian fisik, pemerintah juga mengintensifkan program pemberdayaan generasi muda agar lebih tertarik mengenal dan menjaga budaya lokal.

Berbagai program telah dijalankan, seperti Gerakan Seniman Masuk Sekolah untuk memperkuat pendidikan seni di sekolah, lomba cerdas cermat sejarah lokal, hingga ajang pemilihan duta budaya dan partisipasi dalam paduan suara nasional Gita Bahana Nusantara.

Di sektor kuliner, sejumlah makanan tradisional khas Kalimantan Timur seperti amplang Samarinda, kue amparan tatak, dan jajak juragan mabok telah resmi masuk daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Saat ini, Disdikbud Kaltim juga tengah menyiapkan usulan pendaftaran Kue Keminting agar dapat ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun ini.

Sudiyono menegaskan, sinergi semua pihak menjadi kunci agar budaya Kalimantan Timur mampu tampil sejajar dengan daerah yang telah dikenal kuat dalam menjaga warisan budayanya, seperti Bali dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Sinergi yang kokoh diperlukan agar kebudayaan Kalimantan Timur mampu berdiri sejajar dengan daerah peradaban maju seperti Bali dan Yogyakarta,” pungkasnya. (AD)

Foto : Antara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup