Tradisi yang Bertahan Sejak 1917, Pengrajin Bongsang Sumedang Lembur Jelang Kurban
Mentari pagi baru menyapa Dusun Andir, Sumedang Utara, saat suara khas bilah bambu mulai terdengar dari rumah-rumah panggung para pengrajin. Bukan deru mesin pabrik, melainkan bunyi bambu yang dibelah, diraut, lalu dianyam perlahan menjadi bongsang, keranjang kecil berbahan alami yang kini kembali diburu menjelang Hari Raya Idul Adha.
Di salah satu rumah sederhana, Dadang Gunawan sudah memulai pekerjaannya sejak subuh. Dengan cekatan, tangannya menyusun bilah-bilah bambu menjadi anyaman yang telah ia kuasai sejak kecil, warisan keterampilan turun-temurun yang telah hidup di keluarganya sejak tahun 1917.
“Di sini hampir semua belajar dari keluarga. Dari kecil sudah lihat orang tua bikin bongsang,” ujar Dadang sambil merapikan hasil anyamannya, Sabtu (16/5/2026).
Di Dusun Andir, waktu kerja tak ditentukan oleh jam, melainkan oleh datangnya pesanan. Ritme itu berubah drastis setiap menjelang Idul Adha. Jika biasanya satu keluarga hanya memproduksi sekitar 400 bongsang per hari, saat musim kurban angka itu melonjak menjadi 500 hingga 600 unit, bahkan dengan tambahan jam kerja hingga larut malam.
Dalam kondisi normal, satu rumah tangga mampu menghasilkan sekitar 10 ribu hingga 12 ribu bongsang per bulan. Produk itu dijual dalam ikatan yang disebut kantet, masing-masing berisi 100 bongsang dengan harga Rp50 ribu hingga Rp60 ribu. Dari situ, satu keluarga pengrajin bisa meraup omzet sekitar Rp5 juta hingga Rp7 juta saat permintaan tinggi.
“Kalau lagi ramai seperti sekarang, hampir tidak berhenti. Baru selesai satu pesanan, datang lagi,” katanya.
Tak sekadar kerajinan rumahan, industri bongsang di Sumedang ternyata menjadi denyut ekonomi masyarakat yang terus bertahan. Sedikitnya terdapat lebih dari 60 kepala keluarga yang masih aktif menjadi pengrajin di wilayah tersebut.
Dengan rata-rata produksi sekitar 10 ribu bongsang per keluarga setiap bulan, satu sentra produksi saja mampu menghasilkan lebih dari 160 ribu unit. Jumlah itu belum termasuk desa lain seperti Cisarua dan Wado yang juga dikenal sebagai wilayah penghasil anyaman bambu.
Seluruh aktivitas ini ditopang oleh melimpahnya bahan baku bambu di Sumedang. Berdasarkan data daerah, ketersediaan bambu di wilayah tersebut mencapai sekitar 1,5 juta batang per tahun yang tumbuh alami di lereng perbukitan, bantaran sungai, hingga pekarangan rumah warga.
Meski demikian, pemanfaatannya untuk industri kerajinan masih tergolong kecil. Serapan bambu untuk kebutuhan produksi bongsang tercatat baru sekitar 2.565 batang per bulan, jauh di bawah potensi yang tersedia.
Menjelang Idul Adha, permintaan bongsang meningkat sekitar 20 hingga 30 persen. Selain untuk wadah makanan seperti tahu, kini banyak masyarakat memanfaatkannya sebagai tempat distribusi daging kurban karena dinilai lebih murah, mudah diperoleh, dan ramah lingkungan.
“Sekarang bukan cuma untuk tahu. Banyak juga dipakai untuk daging kurban,” ujar Dadang.
Lonjakan kebutuhan itu sejalan dengan meningkatnya permintaan hewan kurban di Kabupaten Sumedang. Dinas Perikanan dan Peternakan setempat memperkirakan kebutuhan hewan kurban tahun ini naik 10 hingga 15 persen, dari sebelumnya 10.297 ekor menjadi sekitar 11 ribu hingga 11.800 ekor.
Artinya, ratusan ribu paket daging akan dibagikan kepada masyarakat, dan kebutuhan terhadap wadah alami seperti bongsang ikut terdongkrak meski tak tercatat sebagai komoditas utama.
Di tengah derasnya modernisasi, industri bongsang tetap bertahan dengan cara yang sederhana. Anak-anak membantu memotong bambu, orang tua fokus menganyam, sementara ibu-ibu mengikat hasil jadi dalam kantet. Semua bergerak tanpa sistem formal, hanya berdasarkan kebiasaan yang telah dijaga puluhan tahun.
“Selama masih ada bambu, kami masih bisa kerja,” kata Dadang pelan.
Di Sumedang, bambu bukan sekadar tanaman. Ia menjadi sumber penghidupan, penjaga tradisi, sekaligus penghubung sunyi antara rumah-rumah pengrajin dengan perayaan kurban yang sebentar lagi tiba. (AD)
Foto : Antara








