Rupiah Anjlok ke Rp18.188 per Dolar AS, Gejolak Timur Tengah Jadi Pemicu

Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada penutupan perdagangan Senin. Mata uang Garuda ditutup melemah 152 poin atau 0,84 persen ke level Rp18.188 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di Rp18.036 per dolar AS.

Pelemahan rupiah dipengaruhi meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap situasi geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas menyusul serangkaian serangan antara Israel dan Iran.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan ketegangan yang meningkat di kawasan tersebut membuat pelaku pasar cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.

Menurut Ibrahim, laporan mengenai ledakan yang terjadi di sejumlah wilayah Iran, seperti Teheran, Tabriz, dan Isfahan, turut memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.

“Kondisi ini mengurangi harapan akan meredanya konflik dan membuka kembali jalur distribusi minyak mentah melalui Selat Hormuz secara normal,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Senin.

Situasi semakin diperburuk setelah Israel mengklaim melakukan serangan terhadap fasilitas petrokimia di wilayah barat daya Iran serta sejumlah target militer lainnya. Aksi tersebut berlangsung di tengah upaya diplomatik yang disebut-sebut didorong Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menekan eskalasi konflik.

Di sisi lain, Iran dilaporkan melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel. Ketegangan juga merembet ke Lebanon setelah militer Israel menyerang kawasan pinggiran Beirut selatan sebagai respons atas serangan kelompok Hizbullah.

Konflik yang melibatkan sejumlah negara dan kelompok di kawasan Timur Tengah tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dunia, yang pada akhirnya berdampak pada pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain faktor geopolitik, sentimen eksternal juga datang dari data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja masih cukup kuat.

Data non-farm payrolls (NFP) AS pada Mei mencatat penambahan 172 ribu lapangan kerja, jauh melampaui perkiraan pasar yang berada di kisaran 85 ribu pekerjaan. Sementara itu, data April juga direvisi naik menjadi 179 ribu pekerjaan dari sebelumnya 115 ribu.

Adapun tingkat pengangguran AS tercatat tetap berada di level 4,3 persen.

Ibrahim menilai data ketenagakerjaan yang solid memperkuat peluang bank sentral AS atau Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka ruang bagi kebijakan yang lebih ketat apabila tekanan inflasi meningkat akibat kenaikan harga energi.

“Data tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan memberikan alasan bagi The Fed untuk tetap berhati-hati dalam menurunkan suku bunga,” ujarnya.

Sejalan dengan pelemahan rupiah di pasar spot, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia juga menunjukkan penurunan nilai tukar. Pada perdagangan hari ini, JISDOR tercatat berada di level Rp18.171 per dolar AS, melemah dibandingkan posisi sebelumnya sebesar Rp18.039 per dolar AS. (AD)

Foto : Istimewa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup