Sekolah Nasional Terintegrasi Usung Kurikulum Berbasis Global, Digital, dan Budaya Lokal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyiapkan konsep pembelajaran Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) dengan menggabungkan kurikulum nasional, kurikulum khas sekolah, serta kurikulum berbasis konteks lokal. Langkah tersebut dilakukan untuk mencetak lulusan yang memiliki daya saing global tanpa meninggalkan nilai budaya dan karakter bangsa.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan kurikulum nasional tetap menjadi landasan utama dalam penyelenggaraan proses belajar mengajar di SNT. Selanjutnya, kurikulum tersebut akan diperkaya dengan berbagai materi yang mendukung penguasaan bahasa asing, teknologi digital, wawasan internasional, serta penguatan budaya dan potensi daerah.
“Kami ingin peserta didik memiliki kompetensi yang sesuai dengan perkembangan zaman, tetapi tetap memiliki karakter kuat dan berakar pada nilai-nilai serta budaya luhur bangsa Indonesia,” ujar Abdul Mu’ti di Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Menurutnya, standar dan capaian pembelajaran nasional tetap menjadi acuan utama melalui pendekatan pembelajaran mendalam. Di atas fondasi tersebut, setiap SNT akan mengembangkan kurikulum kekhasan sekolah yang disesuaikan dengan visi, karakter, dan kebutuhan peserta didik.
Program unggulan yang akan dikembangkan antara lain Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics, and Sports (STEAMS), pendidikan kepemimpinan, hingga penguatan kemampuan bahasa asing.
Selain itu, Kemendikdasmen juga memasukkan kurikulum berbasis konteks lokal sebagai pelengkap pembelajaran. Materi tersebut mencakup potensi daerah, kearifan lokal, budaya, serta kebutuhan masyarakat agar proses belajar lebih relevan dengan lingkungan tempat peserta didik tinggal.
Abdul Mu’ti menambahkan, digitalisasi pembelajaran dan pengayaan berstandar global juga menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan SNT. Meski demikian, ia menegaskan keberadaan sekolah tersebut bukan untuk menciptakan kesenjangan dengan sekolah lain.
“SNT tidak boleh menjadi ruang kemajuan yang terpisah. Kami ingin sekolah ini menjadi katalisator sekaligus mitra bagi sekolah-sekolah di sekitarnya,” katanya.
Sebagai tahap awal, Kemendikdasmen akan membangun dan mengoperasikan Sekolah Nasional Terintegrasi jenjang SMP hingga SMA di 17 kabupaten dan kota pada tahun ini.
Sebelum gedung permanen selesai dibangun, pemerintah akan menyiapkan kelas transisi dengan memanfaatkan fasilitas milik Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kemendikdasmen maupun bangunan yang disediakan pemerintah daerah.
Sebanyak 17 lokasi yang menjadi sasaran pembangunan SNT meliputi Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Gowa, Kabupaten Bone Bolango, Kota Tidore Kepulauan, Ibu Kota Nusantara, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Jepara, Kota Subulussalam, Kota Tarakan, Kabupaten Donggala, Kabupaten Bolaang Mongondow, Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Kupang, Kabupaten Buton Tengah, Kabupaten Tebo, serta Kabupaten Tanjung Jabung Timur. (AD)
Foto: Istimewa








