Situs Batu Tulis Huludayeuh Cirebon Disiapkan Jadi Wisata Edukasi Sejarah
Pemerintah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, terus mendorong pengembangan Situs Batu Tulis Huludayeuh di Desa Cikalahang, Kecamatan Dukupuntang, sebagai destinasi wisata edukasi sejarah dan budaya. Situs tersebut dinilai menyimpan jejak penting peninggalan Kerajaan Sunda di wilayah Cirebon.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon, Fajar Sutrisno, mengatakan keberadaan situs itu memiliki nilai historis tinggi karena berkaitan dengan perjalanan pemerintahan Kerajaan Sunda pada masa lampau.
Menurut dia, prasasti batu tulis kuno yang berada di kawasan tersebut menjadi bukti sejarah yang harus dijaga sekaligus dikenalkan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
“Ini merupakan salah satu bukti penting sejarah Kerajaan Sunda di wilayah Cirebon yang wajib dilestarikan dan dikenalkan kepada masyarakat,” kata Fajar dalam keterangannya, Kamis (28/5/2026).
Ia menilai Situs Batu Tulis Huludayeuh memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi wisata edukasi. Selain mempelajari sejarah dan budaya, pengunjung juga dapat menikmati suasana alam di sekitar kawasan situs.
Fajar menegaskan upaya pelestarian situs budaya harus dibarengi dengan edukasi kepada masyarakat agar warisan sejarah daerah tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.
Sementara itu, Juru Kunci Situs Batu Tulis Huludayeuh, Edi, menjelaskan batu prasasti tersebut pertama kali ditemukan warga sekitar pada tahun 1930 saat kawasan itu masih berupa hutan belantara.
“Konon saat itu ada pohon beringin tumbang, kemudian batu prasasti ini ditemukan di bawahnya,” ujar Edi.
Ia mengatakan penelitian terhadap situs tersebut baru dilakukan pada Februari 1991. Setelah melalui kajian para ahli, situs itu kemudian ditetapkan sebagai cagar budaya karena memiliki keterkaitan dengan peninggalan Kerajaan Sunda.
Berdasarkan hasil penelitian, prasasti tersebut disebut dibuat atas perintah seorang raja bergelar Sri Maharaja Ratu Haji sebagai penanda atau peringatan atas pekerjaan yang dilakukan untuk kepentingan masyarakat.
“Prasasti ini dibuat atas perintah kerajaan sebagai tanda peringatan terhadap pekerjaan yang telah dilakukan demi kepentingan masyarakat,” katanya.
Edi menambahkan situs tersebut terbuka untuk umum tanpa dikenakan biaya masuk. Selama ini, lokasi itu kerap dikunjungi pelajar maupun masyarakat yang ingin mempelajari sejarah dan budaya Cirebon.
Ia berharap semakin banyak masyarakat datang berkunjung agar kesadaran untuk menjaga dan melestarikan warisan sejarah daerah terus meningkat.
“Masyarakat bisa datang langsung untuk mengenal sejarah sekaligus ikut melestarikannya,” ujar Edi. (AD)
Foto: Dok. Pemkab Cirebon







