Momentum Idul Adha, Kurban Disebut Punya Dampak Besar bagi Ketahanan Pangan

Perayaan Hari Raya Idul Adha selama ini identik dengan ritual penyembelihan hewan kurban sebagai bagian dari ibadah umat Islam. Namun di balik tradisi tahunan tersebut, tersimpan makna sosial, kesehatan, hingga ketahanan pangan yang dinilai memiliki dampak besar bagi masyarakat.

Dikutip dari Antara, dosen UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) Misbakhul Munir menyebut kurban tidak hanya bermakna spiritual, tetapi juga menjadi momentum penting dalam memperkuat kualitas gizi masyarakat dan membangun kepedulian sosial.

Menurut dia, di tengah masih adanya persoalan ketimpangan gizi di Indonesia, pembagian daging kurban menjadi salah satu akses penting bagi masyarakat kurang mampu untuk memperoleh asupan protein hewani berkualitas.

“Idul Adha sering kali menjadi kesempatan langka bagi sebagian masyarakat berpenghasilan rendah untuk menikmati protein hewani dalam jumlah cukup,” ujarnya.

Ia menjelaskan, daging sapi, kambing, maupun domba mengandung protein lengkap yang kaya asam amino esensial. Kandungan tersebut berperan penting dalam pertumbuhan tubuh, pembentukan jaringan otot, produksi hormon, hingga menjaga sistem kekebalan tubuh.

Selain itu, daging merah juga mengandung zat besi, zinc, selenium, dan vitamin B12 yang penting untuk perkembangan otak serta metabolisme tubuh. Kandungan zat besi hem pada daging bahkan dinilai lebih mudah diserap tubuh dibandingkan zat besi dari sumber nabati.

Karena itu, konsumsi protein hewani disebut menjadi faktor penting dalam mencegah anemia serta gangguan tumbuh kembang anak.

Misbakhul menilai persoalan tersebut relevan dengan kondisi Indonesia yang masih menghadapi tantangan stunting, kekurangan protein, hingga anemia pada remaja putri di berbagai daerah.

“Dampaknya bukan hanya pada kesehatan fisik, tetapi juga kemampuan belajar, perkembangan kognitif, hingga produktivitas di masa depan,” katanya.

Ia menambahkan, distribusi daging kurban sejatinya dapat dipandang sebagai bentuk intervensi sosial berbasis pangan. Melalui pembagian yang merata kepada masyarakat kurang mampu, kurban dinilai ikut mendukung agenda kesehatan publik sekaligus memperkuat solidaritas sosial.

Meski demikian, ia menekankan keberhasilan ibadah kurban tidak hanya diukur dari jumlah hewan yang disembelih, tetapi juga ketepatan distribusi kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

“Distribusi yang adil menjadi bagian penting dari esensi kurban karena memperluas akses pangan bergizi bagi kelompok rentan,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, aspek kebersihan dan keamanan pangan juga dinilai menjadi perhatian penting. Karena itu, keberadaan juru sembelih halal (juleha) disebut memiliki peran strategis untuk memastikan proses penyembelihan sesuai syariat sekaligus higienis dan aman dikonsumsi.

Menurut Misbakhul, profesionalisme juleha juga berkaitan dengan edukasi publik mengenai tata kelola kurban yang sehat dan ramah lingkungan.

“Penyembelihan yang sesuai standar membantu meminimalkan risiko kontaminasi pangan dan menjaga kesehatan masyarakat,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya pemeriksaan kesehatan hewan sebelum penyembelihan guna mencegah penularan penyakit zoonosis dari hewan ke manusia.

Selain berdampak pada kesehatan masyarakat, momentum Idul Adha juga dinilai memberi efek ekonomi yang signifikan. Peningkatan permintaan hewan kurban setiap tahun turut menggerakkan sektor peternakan rakyat, pedagang ternak, hingga pelaku usaha kecil di daerah.

“Artinya, kurban bukan hanya memperkuat solidaritas sosial, tetapi juga menopang ekonomi kerakyatan,” ujarnya.

Pemerintah sendiri saat ini tengah menempatkan isu gizi sebagai prioritas pembangunan nasional, salah satunya melalui Program Makan Bergizi Gratis yang dijalankan Badan Gizi Nasional.
Dalam konteks tersebut, kurban dinilai relevan dengan upaya membangun generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Momentum Idul Adha disebut dapat menjadi ruang edukasi publik mengenai pentingnya protein hewani, pola makan seimbang, dan kesadaran menjaga kesehatan keluarga.

Di sisi lain, kesadaran terhadap lingkungan juga mulai menjadi perhatian dalam pelaksanaan kurban modern. Pengelolaan limbah penyembelihan, kebersihan lokasi, hingga pemanfaatan sisa organ hewan perlu dilakukan secara bertanggung jawab agar tidak menimbulkan pencemaran.

Karena itu, konsep kurban berkelanjutan mulai diperkenalkan, yakni pelaksanaan ibadah yang tidak hanya memenuhi aspek syariat, tetapi juga memperhatikan kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan.

Misbakhul menegaskan, nilai agama dan ilmu pengetahuan sejatinya dapat berjalan beriringan melalui momentum kurban.

“Spirit berbagi dalam kurban memiliki dampak nyata terhadap kesehatan, gizi, ekonomi, dan solidaritas sosial masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, Indonesia membutuhkan generasi yang sehat, kuat, dan cerdas untuk menghadapi tantangan global di masa mendatang. Menurutnya, upaya tersebut tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, melainkan membutuhkan partisipasi masyarakat dan budaya saling berbagi.

“Dalam konteks itu, kurban menghadirkan pesan bahwa kepedulian sosial, tata kelola pangan yang baik, dan pemenuhan gizi masyarakat merupakan bagian penting dari investasi peradaban bangsa,” katanya. (AD)

Foto : Antara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup