Indonesia Cetak Skor Tertinggi di GMTI 2026, Wisata Ramah Muslim Kian Diakui Dunia

Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, menyatakan Indonesia memiliki keunggulan dalam penyediaan layanan wisata ramah Muslim dibandingkan banyak negara lain. Keunggulan tersebut menjadi salah satu faktor yang mengantarkan Indonesia meraih peringkat kedua dalam Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026.

Widiyanti menjelaskan, berdasarkan indikator penilaian GMTI, Indonesia unggul terutama pada aspek layanan atau services. Keunggulan itu terlihat dari ketersediaan makanan halal, kemudahan akses menuju fasilitas ibadah, hingga layanan di bandara dan akomodasi yang mendukung kebutuhan wisatawan Muslim.

Selain layanan yang memadai, Indonesia juga dinilai memiliki kekayaan destinasi wisata yang menawarkan perpaduan keindahan alam, budaya, serta keramahan masyarakat. Kondisi tersebut memberikan pengalaman berwisata yang nyaman bagi wisatawan Muslim tanpa mengabaikan kebutuhan menjalankan ibadah dan ketentuan agama.

“Indonesia memiliki keunggulan pada aspek layanan, khususnya dalam penyediaan makanan halal, akses ke masjid atau tempat ibadah, serta fasilitas pendukung di bandara dan akomodasi,” ujar Widiyanti, Kamis (2/7/2026).

Kementerian Pariwisata mencatat sebanyak 15 provinsi telah masuk dalam Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) karena memiliki daya dukung terhadap pengembangan wisata ramah Muslim.

Pada ajang Halal In Travel Global Summit (HIT-GS) 2026 di Singapura, Provinsi Jawa Barat juga meraih penghargaan sebagai daerah paling menjanjikan dalam kategori Global Muslim Travel Index Awards.

Widiyanti mengungkapkan, Indonesia berhasil menempati posisi kedua dalam GMTI 2026 dengan perolehan skor 79. Nilai tersebut menjadi capaian tertinggi Indonesia sejak mengikuti pemeringkatan destinasi wisata ramah Muslim tingkat dunia.

Menurutnya, hasil tersebut mencerminkan semakin kuatnya ekosistem wisata ramah Muslim di Indonesia sekaligus menjadi dorongan untuk terus meningkatkan kualitas pada aspek akses (access), komunikasi (communication), lingkungan (environment), dan layanan (service) yang menjadi indikator utama penilaian GMTI.

Untuk memperkuat daya saing sektor pariwisata, Kementerian Pariwisata terus berkolaborasi dengan kementerian dan lembaga terkait, pemerintah daerah, serta pelaku industri dalam mengembangkan paket wisata ramah Muslim yang terintegrasi.

Upaya tersebut meliputi peningkatan konektivitas dan aksesibilitas destinasi, penguatan ekosistem halal, pengembangan destinasi prioritas, peningkatan kualitas layanan di bandara, hotel, restoran, dan objek wisata, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor pariwisata.

Pemerintah juga terus menggencarkan promosi wisata ramah Muslim agar Indonesia semakin kompetitif sebagai salah satu destinasi unggulan bagi wisatawan Muslim dari berbagai negara. (AD)

Foto : Antara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup