Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.804 per Dolar AS, Pasar Cermati Dampak Kenaikan BI-Rate
Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (19/6). Mata uang Garuda terkoreksi 10 poin atau 0,06 persen menjadi Rp17.804 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.794 per dolar AS.
Analis Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengatakan pergerakan rupiah saat ini masih dipengaruhi respons pelaku pasar terhadap keputusan Bank Indonesia (BI) yang kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.
Menurutnya, kebijakan tersebut diambil sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi, sekaligus memastikan inflasi tetap berada dalam target yang ditetapkan bank sentral.
“Kenaikan suku bunga acuan memberikan sinyal positif bagi pasar karena dapat meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik dan berpotensi mendorong masuknya aliran modal asing ke Indonesia,” ujar Amru.
Ia menambahkan, keputusan BI juga menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga stabilitas pasar keuangan nasional di tengah dinamika ekonomi global yang masih bergejolak.
Sejak Mei 2026, Bank Indonesia tercatat telah menaikkan BI-Rate secara bertahap dengan total kenaikan mencapai 100 basis poin. Dengan kenaikan terbaru tersebut, suku bunga acuan kembali berada di level 5,75 persen, posisi yang terakhir kali tercapai pada April 2025.
Dari faktor eksternal, sentimen pasar global dinilai membaik setelah muncul perkembangan positif terkait situasi geopolitik di Timur Tengah. Kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran yang membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz dinilai mampu meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dunia.
Perkembangan tersebut turut mendorong harga minyak mentah global bergerak lebih rendah. Bagi Indonesia yang masih mengandalkan impor minyak, kondisi ini berpotensi mengurangi tekanan terhadap kebutuhan devisa serta mendukung keseimbangan neraca perdagangan.
“Penurunan harga energi memberikan ruang yang lebih baik bagi rupiah karena dapat mengurangi tekanan eksternal terhadap perekonomian nasional,” jelas Amru.
Meski demikian, ia menilai ruang penguatan rupiah masih relatif terbatas. Hal itu disebabkan dolar AS yang tetap kuat seiring sikap bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, yang masih memberikan sinyal mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
Kondisi tersebut membuat aset berbasis dolar AS tetap menarik bagi investor global dan mendorong pelaku pasar untuk lebih berhati-hati dalam menempatkan dana di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain itu, pasar juga masih mencermati perkembangan situasi di Timur Tengah. Potensi meningkatnya kembali ketegangan geopolitik dinilai dapat memicu volatilitas harga minyak dunia dan mendorong investor mencari aset aman atau safe haven.
Secara keseluruhan, prospek rupiah dinilai lebih baik dibandingkan beberapa pekan sebelumnya setelah kenaikan BI-Rate. Namun, arah pergerakan mata uang nasional dalam jangka pendek masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan sentimen global, khususnya dinamika geopolitik Timur Tengah dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia pada Jumat tercatat berada di level Rp17.826 per dolar AS, relatif stabil dibandingkan posisi sebelumnya. (AD)
Foto : Antara






