Stok Beras Nasional Naik Signifikan, Pemerintah Targetkan 5 Juta Ton Pekan Ini

Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyatakan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) mengalami lonjakan signifikan dalam dua tahun terakhir. Hingga pertengahan April 2026, stok CBP tercatat mencapai 4,9 juta ton, meningkat 222 persen dibandingkan posisi September 2023 yang berada di kisaran 1,52 juta ton.

“Kala itu stok CBP Indonesia berada di angka 1,52 juta ton. Hari ini stok kita sudah 4,9 juta ton, naik eksponensial hingga 222 persen,” ujar Amran dalam keterangannya, Selasa (21/4/23026).

Menurutnya, peningkatan stok ini menjadi indikator kuat kesiapan pemerintah dalam menghadapi potensi gejolak pangan, termasuk dampak fenomena El Nino yang dapat memicu gangguan produksi.

Di tengah tekanan global berupa krisis pangan, energi, dan air, Indonesia dinilai berada dalam posisi yang relatif lebih siap. Ketahanan pangan nasional disebut terus diperkuat sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan swasembada pangan.

Amran menegaskan, stok CBP yang dikelola Perum Bulog saat ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Bahkan, dalam waktu dekat jumlah tersebut diproyeksikan menembus 5 juta ton.

“Insya Allah pekan ini sudah mencapai 5 juta ton. Ini tertinggi sejak Republik Indonesia berdiri,” katanya.

Ia juga memastikan pemerintah telah mengantisipasi potensi El Nino, termasuk skenario terburuk yang disebutnya sebagai “El Nino ekstrem”. Indonesia, lanjut Amran, telah memiliki pengalaman menghadapi fenomena serupa pada 2015 dan periode 2023–2024.

“Semua sudah kita hitung dan siapkan lebih awal. Jadi insya Allah aman,” tambahnya.

Data Badan Pangan Nasional menunjukkan lonjakan stok CBP saat ini jauh lebih tinggi dibandingkan saat puncak El Nino 2023. Berdasarkan catatan BMKG, puncak El Nino saat itu terjadi pada Oktober hingga Desember 2023, ketika stok beras nasional masih di kisaran 1,52 juta ton.

Selain peningkatan cadangan, Amran menyebut Indonesia juga telah menghentikan impor beras sejak 2025. Hal ini didukung oleh peningkatan produksi dalam negeri.

Laporan Rice Outlook April 2026 yang dirilis USDA mencatat Indonesia mengalami penurunan impor beras terbesar di dunia, dengan perubahan minus 3,8 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya.

Sebagai perbandingan, Filipina tercatat sebagai importir beras terbesar pada 2025 dengan volume 3,6 juta ton, sementara Vietnam berada di posisi kedua dengan impor 3,5 juta ton meski juga merupakan eksportir utama.

Lebih lanjut, Amran menyebut capaian swasembada pangan turut berdampak positif terhadap kesejahteraan petani. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan Nilai Tukar Petani (NTP) tanpa perikanan sejak Juli 2024 konsisten berada di atas 120.

Bahkan, NTP tertinggi dalam tujuh tahun terakhir tercatat pada Desember 2025 dan Februari 2026 yang sama-sama mencapai 126,11. Sementara indeks harga yang diterima petani padi juga terus menguat, dengan posisi terbaru pada Maret 2026 mencapai 144,52.

Pemerintah optimistis, penguatan stok dan produksi pangan ini akan menjaga stabilitas nasional sekaligus melindungi masyarakat dari potensi krisis pangan global. (AD)

Foto : Dok. Kementan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup