Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.851 per Dolar AS, Ketegangan AS-Iran Mereda
Nilai tukar rupiah berhasil mengakhiri perdagangan awal pekan dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda ditutup naik 71 poin atau sekitar 0,40 persen ke posisi Rp17.851 per dolar AS pada perdagangan Senin (29/6/2026), dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.922 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi membaiknya sentimen pasar global setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran sepakat meredakan ketegangan yang sempat meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Menurutnya, kabar mengenai kedua negara yang memilih menahan eskalasi konflik serta melanjutkan jalur diplomasi memberikan dorongan positif bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
“Rupiah bersama sejumlah mata uang regional dan global menguat terhadap dolar AS karena pasar merespons positif laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran akan menahan diri, sementara pembicaraan diplomatik tetap berlangsung,” ujar Lukman, Senin.
Sebelumnya, situasi di kawasan Timur Tengah sempat memanas setelah Iran mengecam serangan Amerika Serikat terhadap sejumlah wilayah di pesisir selatannya. Teheran menilai tindakan tersebut melanggar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta kesepakatan damai yang baru disepakati kedua negara.
Iran kemudian melancarkan serangan balasan dengan menargetkan delapan fasilitas militer Amerika Serikat di Kuwait dan Bahrain menggunakan rudal serta drone.
Namun, tensi konflik mulai mereda setelah muncul laporan bahwa Washington dan Teheran sepakat menghentikan permusuhan. Kedua negara dijadwalkan menggelar pertemuan di Qatar pada Selasa (30/6/2026) guna membahas implementasi nota kesepahaman (MoU), terutama terkait pengaturan di Selat Hormuz.
Selain faktor geopolitik, stabilnya harga minyak dunia turut memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan. Kondisi tersebut mengurangi kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan energi global yang sebelumnya membayangi pergerakan mata uang.
Meski demikian, Lukman mengingatkan bahwa ruang penguatan rupiah masih dibayangi kebijakan moneter Amerika Serikat. Pernyataan bernada agresif (hawkish) dari pejabat Federal Reserve (The Fed) serta ekspektasi suku bunga tinggi diperkirakan masih menjadi penopang penguatan dolar AS dalam beberapa waktu ke depan.
Ia menambahkan, pelaku pasar pada pekan ini akan mencermati sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat, termasuk data aktivitas manufaktur dan laporan ketenagakerjaan Non-Farm Payrolls (NFP). Apabila hasilnya kembali menunjukkan ekonomi AS tetap kuat, peluang The Fed mempertahankan sikap ketat terhadap kebijakan suku bunga akan semakin besar.
Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia juga menunjukkan penguatan rupiah. Pada perdagangan Senin, JISDOR tercatat berada di level Rp17.956 per dolar AS, menguat dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di Rp17.962 per dolar AS. (AD)
Foto : Antara








