Kemenpar Dorong Pengembangan Wisata Ramah Muslim, Sasar Pasar Timur Tengah hingga Asia
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menetapkan 15 provinsi sebagai prioritas pengembangan destinasi wisata ramah Muslim di Indonesia. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat daya saing pariwisata nasional sekaligus memperluas pangsa pasar wisatawan Muslim dari berbagai negara.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan penetapan 15 provinsi tersebut mengacu pada Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) yang disusun berdasarkan indikator Global Muslim Travel Index (GMTI).
Menurut Widiyanti, daerah yang dinilai memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata ramah Muslim meliputi Aceh, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Bengkulu, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Gorontalo, serta Daerah Istimewa Yogyakarta.
Untuk mempercepat pengembangan kawasan tersebut, Kementerian Pariwisata memasukkan berbagai agenda unggulan ke dalam program Karisma Event Nusantara (KEN). Beragam kegiatan bernuansa budaya dan religi diharapkan mampu meningkatkan daya tarik bagi wisatawan Muslim, baik domestik maupun mancanegara.
Sejumlah agenda yang dipromosikan antara lain Aceh Ramadhan Festival, Aceh Culinary Festival, Muslim Life Fest, Balangan Islamic Festival, Pawai Takbir Batam, serta Batam Wonderfood & Art Ramadhan.
Selain menghadirkan berbagai event, Kemenpar juga menyediakan laman khusus Muslim Friendly Travel pada portal Indonesia.travel. Platform tersebut memudahkan wisatawan memperoleh informasi mengenai destinasi wisata, kalender kegiatan, lokasi tempat ibadah, hingga pilihan paket perjalanan yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan Muslim.
Widiyanti mengatakan pemerintah juga terus memperluas ragam produk wisata ramah Muslim. Pengembangan tidak hanya difokuskan pada wisata religi, tetapi juga kuliner halal serta layanan wellness yang mengedepankan nilai-nilai spiritual.
Di sisi lain, Kementerian Pariwisata memperkuat kapasitas pelaku usaha melalui program pendampingan bisnis, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta perluasan akses pembiayaan dan pasar bagi penyedia layanan wisata ramah Muslim.
Kemenpar juga menilai peluang meningkatkan kunjungan wisatawan dari negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) masih terbuka, meski sejumlah kawasan Timur Tengah tengah menghadapi dinamika geopolitik.
Arab Saudi dipandang tetap menjadi salah satu pasar potensial karena konektivitas penerbangan menuju Indonesia masih berjalan dengan baik. Meski demikian, pemerintah terus memantau perkembangan situasi di kawasan tersebut agar strategi promosi pariwisata dapat disesuaikan dengan kondisi terkini.
Selain membidik wisatawan dari negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Turki, dan Uzbekistan, Kemenpar juga memperluas pasar ke negara nonanggota OKI yang memiliki minat tinggi terhadap wisata ramah Muslim.
Beberapa negara yang menjadi sasaran promosi antara lain Singapura, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, China, Australia, dan Selandia Baru. Pemerintah berharap langkah tersebut dapat meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu destinasi wisata ramah Muslim terkemuka di dunia. (AD)
Foto : Antara







