Hadapi Ancaman El Nino, Pemerintah Percepat Gerakan Tanam Padi di Lamongan

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengakselerasi gerakan tanam padi seluas 750 hektare di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, sebagai upaya memperkuat produksi beras nasional sekaligus mengantisipasi dampak fenomena El Nino.

Dalam keterangannya, Senin (1/6/2026), Sudaryono mengatakan percepatan tanam dilakukan untuk menjaga tren peningkatan luas tanam di Lamongan yang merupakan salah satu lumbung pangan utama nasional.

“Gerakan ini sebagai upaya memperkuat produksi beras nasional dan menjaga momentum peningkatan luas tanam di salah satu lumbung pangan utama Indonesia,” kata Sudaryono.

Wamentan bersama Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy meninjau langsung pelaksanaan gerakan tanam di Desa Kebalankulon, Kecamatan Sekaran, Lamongan. Keduanya juga melakukan penanaman padi varietas Inpari 32 di lahan seluas 12 hektare yang menjadi bagian dari total target tanam 750 hektare.

Menurut Sudaryono, peningkatan produksi pangan nasional hanya dapat dicapai apabila luas tanam terus ditingkatkan. Karena itu, pemerintah berupaya memastikan seluruh kebutuhan petani tersedia, mulai dari benih, pupuk, air irigasi hingga alat dan mesin pertanian.

“Kunci pertanian itu sederhana, kalau ingin panennya lebih banyak maka tanamnya harus lebih banyak. Karena itu pemerintah memastikan seluruh kebutuhan produksi dipenuhi agar petani bisa meningkatkan luas tanam dan produktivitasnya,” ujarnya.

Ia menegaskan Lamongan memiliki posisi strategis dalam mendukung target produksi pangan nasional karena menjadi salah satu daerah dengan produktivitas pertanian tertinggi di Jawa Timur.

Selain mendorong peningkatan produksi, Kementerian Pertanian juga memperkuat langkah mitigasi menghadapi potensi El Nino yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus mendatang. Meski demikian, Sudaryono memastikan cadangan pangan nasional saat ini masih dalam kondisi aman.

“Berdasarkan berbagai proyeksi, dampak El Nino diperkirakan paling kuat terjadi pada Juli hingga September dengan puncak pada Agustus. Namun pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi agar produksi pertanian tetap terjaga,” katanya.

Untuk mengantisipasi dampak kekeringan, pemerintah terus memperkuat infrastruktur pengairan melalui revitalisasi jaringan irigasi, pembangunan sarana air, pengeboran air tanah, hingga program pompanisasi di berbagai sentra produksi pangan. Sejak 2024, Kementerian Pertanian telah menyalurkan hampir 100 ribu unit pompa air ke berbagai wilayah Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi menyampaikan sektor pertanian di daerahnya mendapat dorongan positif dari berbagai program pemerintah, termasuk kemudahan akses pupuk bagi petani.

“Alhamdulillah pupuk di Kabupaten Lamongan saat ini aman, tersedia dengan mudah dan harga yang terjangkau. Ini menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga produktivitas pertanian di Lamongan,” kata Yuhronur.

Ia menambahkan Pemerintah Kabupaten Lamongan terus mengoptimalkan jaringan irigasi, pemanfaatan pompanisasi, serta normalisasi saluran air untuk menjamin ketersediaan air bagi lahan pertanian.

Sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan produktivitas petani, Wamentan Sudaryono, Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, dan Bupati Lamongan turut menyerahkan bantuan stimulan pertanian berupa benih padi, benih jagung, hand tractor, dan rotavator kepada perwakilan petani setempat. (AD)

Foto: Dok. Kemenhan RI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup