Klarifikasi JK soal Video Ceramah UGM: Bukan Penistaan, Tapi Pesan Damai
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla akhirnya angkat bicara terkait polemik ceramahnya yang viral di media sosial. Ia juga menyampaikan permohonan maaf karena baru memberikan klarifikasi kepada publik.
Dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (18/4/2026), JK menjelaskan keterlambatan tersebut lantaran dirinya baru kembali dari Jepang pada pagi hari.
“Pertama, saya minta maaf karena baru hari ini bisa menjelaskan persoalan yang viral, karena subuh tadi saya baru pulang dari Jepang,” ujarnya dikutip Minggu (19/4/2026).
JK mengatakan klarifikasi ini penting untuk meluruskan potongan video ceramahnya di Masjid Universitas Gadjah Mada yang beredar luas. Ia menekankan bahwa ceramah tersebut disampaikan dalam konteks Ramadhan dan ditujukan kepada jamaah muslim di lingkungan akademik.
Menurutnya, pemahaman terhadap konteks ceramah menjadi kunci agar tidak terjadi kesalahpahaman di masyarakat.
Dalam kesempatan itu, JK juga menyinggung penayangan cuplikan video konflik Maluku dan Poso yang menjadi bagian dari materi ceramahnya. Ia menjelaskan, video tersebut hanya pengantar untuk memberikan gambaran sejarah konflik yang terjadi sekitar 26 tahun lalu.
“Video itu hanya pembukaan, bukan keseluruhan peristiwa. Saat itu, dokumentasi yang tersedia memang terbatas di wilayah perkotaan,” jelasnya.
JK menegaskan bahwa isi ceramahnya berfokus pada upaya perdamaian, bukan mengandung unsur penistaan agama seperti yang dituduhkan sebagian pihak.
“Saya diundang dengan tema perdamaian, jadi yang saya sampaikan adalah langkah-langkah menuju perdamaian,” tegasnya.
Diketahui, ceramah JK tersebut berlangsung pada 5 Maret 2026 dalam rangka Ramadhan 1447 Hijriah, dengan tema strategi diplomasi Indonesia dalam meredam potensi eskalasi konflik regional. Namun potongan ceramah itu baru viral pada pertengahan April 2026.
Polemik semakin berkembang setelah Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) melaporkan JK ke Polda Metro Jaya pada 12 April 2026. Laporan itu berkaitan dengan pernyataan dalam ceramah yang dianggap menyinggung isu sensitif, termasuk soal mati syahid. (AD)
Foto : Dok. Antara







