Hadapi Musim Kemarau, Pemerintah Siapkan Jurus Jaga Harga Pangan
Pemerintah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas harga pangan sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat di tengah musim kemarau yang mulai berdampak terhadap pasokan sejumlah komoditas.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan pemerintah perlu melakukan langkah antisipasi karena kondisi kemarau yang beriringan dengan masa paceklik mulai mendorong kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok.
“Karena sekarang lagi musim kering, musim paceklik, harga mulai sedikit-sedikit naik. Oleh karena itu pemerintah mengambil langkah untuk menghadapi kondisi tersebut,” kata Zulkifli saat kunjungan kerja bersama Direktur Utama Perum BULOG Ahmad Rizal Ramdhani di KDKMP Desa Pisang, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Jumat (11/9/2026).
Salah satu kebijakan yang disiapkan adalah mempercepat penyaluran bantuan pangan berupa beras kepada masyarakat penerima manfaat. Bantuan yang sebelumnya dialokasikan untuk Juli, Agustus, dan September akan dituntaskan.
Setiap penerima mendapatkan 10 kilogram beras per bulan. Dengan demikian, bantuan untuk periode tiga bulan tersebut mencapai 30 kilogram.
“Harusnya Juli, Agustus, September itu 10 kilogram, tetapi sekarang September akan kita selesaikan sekaligus 30 kilogram,” ujarnya.
Zulkifli menyebut bantuan pangan tersebut diperuntukkan bagi sekitar 33,2 juta penerima manfaat yang masuk dalam kelompok desil 1 hingga desil 4 berdasarkan data penerima bantuan pemerintah.
Setelah penyaluran periode tersebut selesai, pemerintah juga menyiapkan bantuan beras untuk tiga bulan berikutnya, yakni Oktober, November, dan Desember. Total bantuan yang diterima masyarakat untuk periode tersebut kembali mencapai 30 kilogram per penerima.
“Artinya ada satu juta ton lagi yang akan dibagi nanti Oktober atau November sekaligus 30 kilogram,” kata Zulkifli.
Siapkan Beras Subsidi di Pasar
Selain bantuan langsung kepada masyarakat berpenghasilan rendah, pemerintah menyiapkan sekitar satu juta ton beras subsidi yang akan disalurkan melalui pasar-pasar tradisional pada periode Oktober hingga Desember.
Program tersebut menyasar masyarakat yang masih memiliki kemampuan membeli beras, tetapi membutuhkan bahan pangan dengan harga yang lebih terjangkau.
Pemerintah menargetkan harga beras subsidi berada pada kisaran Rp12.000-Rp12.500 per kilogram.
Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan pasokan beras di pasar sekaligus menahan tekanan harga selama musim kemarau dan masa paceklik.
Tepung hingga Jagung Ikut Disubsidi
Tak hanya beras, pemerintah juga menyiapkan subsidi tepung untuk mendukung masyarakat yang menjalankan usaha di sektor pangan, termasuk perajin kue dan pelaku UMKM.
Zulkifli mengatakan penyediaan tepung bersubsidi diperlukan untuk membantu menjaga biaya produksi pelaku usaha agar tetap terkendali.
“Karena perajin-perajin kue ini tidak boleh impor beras lagi, kita turunkan harganya. Ada 380 ribu ton yang segera disiapkan untuk membuat kue dan berbagai usaha masyarakat,” ujarnya.
Pemerintah menyiapkan sekitar 380 ribu ton tepung dengan harga subsidi sekitar Rp11.000 per kilogram.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan jagung bersubsidi bagi peternak rakyat. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga ketersediaan bahan pangan sekaligus membantu keberlangsungan usaha masyarakat di tengah kondisi kemarau.
Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah berharap pasokan pangan tetap tersedia, harga kebutuhan pokok dapat dikendalikan, dan daya beli masyarakat tetap terjaga selama periode musim kemarau. (AD)
Foto: Dok. BMKG








