Kementerian Kebudayaan Revitalisasi Situs Bersejarah di Maluku Utara

Kementerian Kebudayaan menyiapkan program revitalisasi sejumlah situs bersejarah di Maluku Utara. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keberadaan cagar budaya sekaligus menjadikannya sebagai ruang pembelajaran sejarah dan ilmu pengetahuan bagi masyarakat.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan revitalisasi akan menyasar sejumlah situs yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya, termasuk kawasan bersejarah di Ternate dan Tidore.

“Kementerian Kebudayaan akan melakukan upaya revitalisasi terhadap sejumlah situs yang telah menjadi cagar budaya, termasuk di Ternate dan Tidore,” ujar Fadli Zon dalam keterangan pers kementerian, Senin (24/8/2026).

Menurut Fadli, Maluku Utara memiliki kekayaan sejarah yang sangat besar dan dapat dikembangkan menjadi bagian dari wisata sekaligus edukasi kebudayaan.

Salah satu potensi yang dinilai penting berada di Ternate, yakni jejak Alfred Wallace. Naturalis dan penjelajah tersebut dikenal memiliki keterkaitan dengan berbagai penelitian mengenai alam dan keanekaragaman hayati di kawasan Maluku.

Jejak tersebut, kata Fadli, dapat dikembangkan menjadi sarana edukasi yang menghubungkan sejarah, kebudayaan, ilmu pengetahuan, serta kekayaan alam Maluku Utara.

Selain jejak Wallace, sejumlah peninggalan penting lainnya juga tersebar di wilayah tersebut. Di antaranya Benteng Oranje dan Benteng Kalamata, serta berbagai warisan sejarah dari Kesultanan Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan.

Fadli menilai keberadaan peninggalan tersebut tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Maluku Utara.

Maluku Utara juga memiliki posisi strategis dalam perjalanan sejarah Nusantara, khususnya terkait perdagangan rempah-rempah. Kawasan ini sejak dahulu menjadi salah satu pusat penting dalam jaringan perdagangan rempah yang menghubungkan Nusantara dengan berbagai wilayah dunia.

Kekayaan budaya Maluku Utara juga tercermin melalui filosofi Moloku Kie Raha, yang menggambarkan perserikatan empat kesultanan atau empat gunung di Maluku. Selain itu, beragam tradisi adat, bahasa, dan praktik kebudayaan masih hidup di tengah masyarakat.

Karena itu, Fadli mengajak seluruh pihak untuk ikut menjaga dan mengembangkan warisan budaya tersebut. Ajakan itu disampaikan kepada Pengurus Himpunan Keluarga Maluku Utara (HIKMU) periode 2026-2031 yang baru dilantik.

Dia menekankan bahwa pelestarian kebudayaan tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Peran pemerintah daerah, masyarakat adat, komunitas budaya, organisasi masyarakat, hingga generasi muda diperlukan agar warisan budaya tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

“Pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat adat, komunitas budaya, organisasi masyarakat, generasi muda, serta berbagai pemangku kepentingan memiliki peran penting dalam memastikan kekayaan budaya Indonesia terus hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi mendatang,” tuturnya.

Revitalisasi situs-situs bersejarah di Maluku Utara diharapkan tidak hanya menjaga peninggalan masa lalu, tetapi juga membuka ruang edukasi bagi generasi muda untuk mengenal sejarah dan kebudayaan daerahnya. (AD)

Foto: Antara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup