Rupiah Melemah ke Rp17.944 per Dolar AS, Tertekan Aksi Jual Investor Asing

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Rabu (1/7/2026). Mata uang Garuda turun 37 poin atau 0,21 persen ke posisi Rp17.944 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.907 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi berlanjutnya arus keluar modal asing dari pasar keuangan domestik, khususnya pasar saham.

Menurutnya, investor asing membukukan aksi jual bersih (net sell) sebesar 58,20 juta dolar AS. Kondisi tersebut turut menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terkoreksi 3,05 persen hingga berada di level 5.643.

Josua memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini berada di kisaran Rp17.825 hingga Rp17.950 per dolar AS. Pelaku pasar juga menanti sejumlah data ekonomi domestik yang akan diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), yakni inflasi Juni 2026 dan neraca perdagangan Mei 2026.

Ia memproyeksikan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Juni 2026 meningkat menjadi 0,50 persen secara bulanan (month to month/mom) atau 3,41 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi Mei 2026 yang tercatat sebesar 0,28 persen secara bulanan dan 3,08 persen secara tahunan.

Kenaikan inflasi diperkirakan dipicu meningkatnya dampak kenaikan biaya produksi terhadap harga barang di tingkat konsumen, termasuk kenaikan harga energi non-subsidi dan tarif transportasi.

Di sisi lain, surplus neraca perdagangan Indonesia diprediksi melebar menjadi 1,13 miliar dolar AS pada Mei 2026, naik dari surplus 0,09 miliar dolar AS pada April 2026. Peningkatan tersebut didorong normalisasi aktivitas impor setelah lonjakan permintaan pada periode pasca-Lebaran, meski tren dalam satu tahun terakhir masih menunjukkan surplus perdagangan yang cenderung menyempit.

Dari faktor eksternal, pasar keuangan global masih dibayangi ketidakpastian terkait perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Investor terus mencermati kelanjutan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Doha, Qatar, sebagai upaya meredakan ketegangan di kawasan Selat Hormuz.

Seiring meredanya konflik, aktivitas pelayaran kapal tanker minyak mulai kembali normal sehingga memunculkan harapan terhadap membaiknya pasokan energi global. Kondisi tersebut membuat pasar mengurangi ekspektasi terhadap peluang lebih dari satu kali kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) pada tahun ini.

Meski demikian, Josua menilai sikap hawkish yang masih ditunjukkan Federal Open Market Committee (FOMC), didukung kuatnya pasar tenaga kerja AS serta inflasi inti yang tetap tinggi, membuat suku bunga diperkirakan bertahan di level tinggi dalam jangka waktu yang lebih panjang. (AD)

Foto : Antara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup