Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.762 per Dolar As, Pasca Cermati The Fed dan BI
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Rabu sore. Mata uang Garuda terkoreksi 37 poin atau 0,21 persen ke level Rp17.762 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.725 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik yang masih menjadi perhatian pelaku pasar.
Dari sisi eksternal, investor mencermati perkembangan hubungan antara Amerika Serikat dan Iran di tengah upaya meredakan konflik di kawasan Timur Tengah. Munculnya optimisme terkait kesepakatan sementara antara kedua pihak dinilai memberikan sentimen positif bagi pasar.
Kesepakatan tersebut disebut mencakup peluang bagi Iran untuk melanjutkan ekspor minyak serta memperpanjang gencatan senjata selama proses negosiasi berlangsung.
Meski demikian, ketidakpastian geopolitik dinilai masih cukup tinggi. Proses pemulihan produksi energi diperkirakan membutuhkan waktu, sementara sikap Israel yang belum sepenuhnya mendukung kesepakatan tersebut memunculkan keraguan terhadap keberlanjutan gencatan senjata.
Selain isu geopolitik, perhatian investor juga tertuju pada hasil rapat kebijakan moneter bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed). Pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada level saat ini.
Namun demikian, pelaku pasar akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru dan arah kebijakan moneter ke depan, termasuk peluang pemangkasan suku bunga pada akhir tahun 2026.
“Pasar sangat sensitif terhadap setiap sinyal dari The Fed mengenai ruang pelonggaran kebijakan moneter pada akhir tahun,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (17/6/2026).
Dari dalam negeri, fokus investor mengarah pada pelaksanaan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada 17-18 Juni 2026.
RDG kali ini menjadi perhatian karena Bank Indonesia sebelumnya beberapa kali menaikkan BI Rate guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya tekanan eksternal.
Menurut Ibrahim, langkah pengetatan kebijakan moneter tersebut mencerminkan komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas pasar keuangan nasional serta mempertahankan kepercayaan investor.
Selain itu, Indonesia dinilai memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap potensi gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. Hal ini didukung oleh strategi diversifikasi impor minyak mentah melalui kontrak jangka panjang dengan sejumlah negara pemasok alternatif.
Strategi tersebut dinilai penting untuk menjaga ketahanan energi nasional sekaligus meminimalkan risiko gangguan pasokan akibat dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Untuk perdagangan Kamis (18/6), rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Mata uang domestik diproyeksikan berada dalam rentang Rp17.760 hingga Rp17.800 per dolar AS seiring pelaku pasar menunggu hasil keputusan The Fed dan Bank Indonesia. (AD)
Foto : Antara






