Menhut dan Kepala BNPB Bakal Berkantor di Kalteng, Kawal Penanganan Karhutla dan Operasi Modifikasi Cuaca
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto memutuskan untuk berkantor sementara di Kalimantan Tengah (Kalteng). Langkah tersebut dilakukan untuk mengawal langsung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), termasuk pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC).
Kementerian Kehutanan menyebut keputusan itu diambil sebagai upaya memaksimalkan penanganan karhutla dan mengurangi dampaknya terhadap masyarakat, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
“Kami akan maksimumkan segala potensi yang ada, karena ini juga perintah Bapak Presiden agar dampak karhutla terhadap masyarakat dapat diminimalisir,” ujar Raja Juli dalam keterangannya, Selasa (22/9/2026).
Raja Juli mengatakan pemerintah terus mengoptimalkan potensi awan hujan yang tersedia untuk mendukung upaya pemadaman. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengawal pelaksanaan OMC guna membantu mendatangkan hujan di wilayah terdampak.
Menhut dan Kepala BNPB Berkantor Selama Beberapa Hari
Keputusan untuk berkantor di Kalteng juga disampaikan Suharyanto. Dia menjelaskan, langkah tersebut diambil setelah melihat kondisi kabut asap yang masih menyelimuti wilayah tersebut, sementara hujan belum turun selama sekitar satu pekan terakhir.
“Kami berdua juga yang tadinya hanya berkunjung kembali memutuskan untuk beberapa hari berkantor di Kalimantan Tengah,” kata Suharyanto.
Menurutnya, keberadaan mereka di Kalteng bertujuan memastikan upaya penanganan karhutla dan OMC berjalan hingga operasi tersebut berhasil menghasilkan hujan.
“Supaya sampai dengan nanti operasi modifikasi cuacanya berhasil, hujan turun, paling tidak sedikit membantu terbukanya cuaca yang sekarang dipenuhi oleh kabut asap,” ujarnya.
30 Hektare Lahan Masih dalam Penanganan
Suharyanto mengungkapkan, luas lahan yang sebelumnya terbakar di wilayah Kalteng mencapai sekitar 180 hektare. Dari luasan tersebut, satuan tugas pemadaman darat disebut mampu menangani sekitar 150 hektare dalam satu hari.
Dengan demikian, masih terdapat sekitar 30 hektare lahan yang dalam proses pemadaman. Namun, upaya penanganan belum sepenuhnya selesai karena titik kebakaran baru masih bermunculan setiap hari.
Selain itu, lahan gambut yang telah dipadamkan berpotensi kembali terbakar. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam penanganan karhutla di Kalteng.
Kabut Asap Diatasi dengan OMC
Suharyanto menuturkan, kabut asap yang menyelimuti wilayah Kalteng tidak dapat dihilangkan secara langsung menggunakan teknologi tertentu. Dia menyebut angin dan hujan menjadi dua faktor yang dapat membantu mengurai kabut asap.
Pemerintah pun berupaya mendatangkan hujan melalui operasi modifikasi cuaca dengan memanfaatkan potensi awan yang tersedia.
Pelaksanaan OMC sebelumnya menghadapi kendala operasional. Satu pesawat yang ditempatkan di Bandara Cilik Riwut tidak dapat beroperasi akibat jarak pandang (visibility) yang rendah.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, operasi modifikasi cuaca mulai malam berikutnya direncanakan dilakukan dari dua bandara, yakni Bandara Syamsudin Noor dan Bandara Pangkalan Bun.
Penentuan lokasi operasi tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan potensi hujan berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). (AD)
Foto: Dok. Kemenhut







