Abu Vulkanik Anak Krakatau Mengarah ke 5 Provinsi, Ini Imbauan Badan Geologi
Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda terpantau menyebar di atmosfer hingga lima provinsi. Wilayah yang masuk dalam pantauan meliputi Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, dan Bengkulu.
Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Lana Saria mengatakan informasi tersebut diperoleh dari penggabungan sejumlah sumber pemantauan aktivitas vulkanik dan kondisi atmosfer.
“Berdasarkan gabungan informasi erupsi dan aktivitas vulkanik dari PVMBG melalui MAGMA Indonesia, informasi VAAC Darwin, serta analisis citra satelit Himawari-9 oleh BMKG, abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau menyebar di atmosfer ke arah Banten, sebagian Jawa Barat dan DKI Jakarta, serta Lampung, dan Bengkulu,” kata Lana di Bandung, Jawa Barat, dikutip Senin (7/9/2026).
Menurut Lana, sebaran abu vulkanik tidak bersifat tetap. Arah maupun jarak penyebarannya dapat berubah dalam waktu relatif singkat, terutama dipengaruhi kondisi angin pada berbagai ketinggian.
Selain faktor angin, luas wilayah yang terdampak juga dipengaruhi oleh ketinggian kolom erupsi, lamanya erupsi berlangsung, hingga banyaknya material vulkanik yang dimuntahkan.
Karena itu, informasi mengenai arah sebaran abu harus terus diperbarui mengikuti kondisi meteorologi terkini.
“Oleh sebab itu arah sebaran abu dapat berubah dalam waktu relatif singkat dan harus diperbarui berdasarkan kondisi meteorologi terkini,” ujarnya.
Warga Diminta Ikuti Informasi Resmi
Badan Geologi mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dengan menghindari aktivitas di luar ruangan. Warga juga diminta tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi dan mengikuti perkembangan erupsi melalui kanal resmi pemerintah.
Lana mengatakan potensi dampak yang lebih luas dapat terjadi apabila aktivitas erupsi meningkat. Kondisi tersebut antara lain ketika kolom erupsi mencapai ketinggian lebih besar, erupsi berlangsung lebih lama, atau arah angin membawa abu menuju wilayah berpenduduk maupun jalur penerbangan.
Badan Geologi juga terus berkoordinasi dengan otoritas penerbangan untuk memantau perkembangan dan pergerakan abu vulkanik. Informasi tersebut diperlukan untuk mendukung keselamatan penerbangan.
“Dampak terhadap operasional bandara ditetapkan oleh otoritas penerbangan berdasarkan informasi abu aktual, perkiraan penyebaran, dan standar keselamatan penerbangan,” kata Lana.
Lana menegaskan masyarakat perlu memperhatikan pembaruan informasi secara berkala. Sebab, pola penyebaran abu vulkanik tidak dapat dipastikan hanya dengan mengacu pada satu kali kejadian erupsi.
Pembaruan kondisi aktivitas Gunung Anak Krakatau dan arah sebaran abu menjadi penting karena perubahan cuaca, arah angin, serta karakter erupsi dapat memengaruhi wilayah yang berpotensi terdampak. (AD)
Foto: Antara







