Pemerintah Dorong Pengembangan Sovereign AI Buatan Indonesia
Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) menegaskan komitmennya untuk mendorong lahirnya kecerdasan buatan berdaulat (sovereign AI) yang dikembangkan di dalam negeri. Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria mengatakan pemerintah siap memberikan dukungan penuh terhadap setiap inisiatif pembangunan AI nasional.
“Pemerintah mendorong, mendukung, dan akan memberikan support untuk semua inisiatif membangun sovereign AI di Indonesia. AI yang berdaulat, dan kita memang butuh itu,” kata Nezar dikutip Jumat (28/11/2025).
Nezar menjelaskan, pengembangan AI berdaulat kini menjadi tren global di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Menurutnya, berbagai perusahaan teknologi Indonesia sudah mulai bergerak mengembangkan teknologi tersebut.
“Pemerintah sebagai regulator dan akselerator mencoba membagikan, melindungi dengan kerangka hukum, dan memberikan kemudahan agar sovereign AI ini bisa dibuat dan dikerjakan di sini. Sekarang infonya sudah dikerjakan, kita tunggu saja,” ujarnya.
Sebelumnya, Kemenkomdigi telah merampungkan Buku Putih Peta Jalan Kecerdasan Artifisial Indonesia (AI Nasional) pada Agustus 2025. Dokumen setebal 179 halaman itu disusun oleh 443 kontributor dari unsur pemerintah, akademisi, industri, komunitas, hingga media.
Buku Putih tersebut memuat rekomendasi terkait pembangunan AI berdaulat, termasuk peran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia sebagai salah satu pihak yang menangani sebagian besar pengembangan sovereign AI. Meski tidak merinci kebutuhan anggaran, dokumen itu memperkirakan pendanaan disiapkan pada rentang 2027–2029, termasuk skema pembiayaan publik–swasta.
Selain itu, dokumen juga menyarankan peningkatan insentif fiskal bagi investor domestik di sektor AI, meski detailnya belum diungkap. Komdigi masih membuka ruang untuk masukan publik terkait peta jalan tersebut.
Dalam dokumen itu, sejumlah pelaku industri disebut berpotensi terlibat dalam pengembangan AI nasional, termasuk raksasa teknologi Huawei dan perusahaan teknologi GoTo.
Foto : LinkedIn





