Matsama 2025: Menanamkan Cinta di Madrasah, Menolak Kekerasan Militeristik dalam Pendidikan
Memasuki tahun ajaran baru 2025/2026, madrasah di seluruh Indonesia serempak menyelenggarakan Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (Matsama) mulai Senin, 14 Juli 2025. Tak sekadar rutinitas penyambutan siswa baru, Matsama menjadi ajang strategis menanamkan nilai-nilai cinta, kemanusiaan, dan semangat keislaman yang rahmatan lil ‘alamin.
Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama menegaskan bahwa Matsama merupakan momen membangun budaya kasih sayang dan kedekatan emosional antara siswa, guru, serta lingkungan madrasah. Pendekatan ini selaras dengan konsep pendidikan berbasis cinta yang telah dicanangkan Kemenag sejak Mei 2025.
“Matsama adalah panggung awal membentuk karakter siswa. Bukan dengan pendekatan kekuasaan, tapi kelembutan hati,” ujar perwakilan Kemenag seperti dikutip dari laman resminya.
Di tengah semangat humanisme itu, mencuat polemik nasional soal pelibatan TNI-Polri dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, dengan tegas menyatakan hanya panitia sekolah, Dinas Pendidikan, dan Kementerian Pendidikan yang boleh terlibat dalam MPLS. Unsur di luar itu, termasuk TNI dan Polri, dilarang.
Namun sikap berbeda diambil Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Sekretaris Daerah Jabar, Herman Suryatman, menyatakan pihaknya tetap melibatkan TNI-Polri di MPLS untuk tingkat SMA dan SMK negeri. Langkah ini memicu kritik dari kalangan pendidik, terutama di lingkungan madrasah yang mengedepankan pendekatan spiritual dan humanis.
Dalam konteks madrasah, kehadiran aparat berseragam dinilai berisiko menciptakan atmosfer otoriter yang tidak sejalan dengan nilai pendidikan Islam. “Pendidikan Islam tidak boleh tergelincir menjadi pelatihan militeristik,” tulis sebuah artikel reflektif di laman Kemenag, 9 Mei 2025. “Kita butuh keteladanan, bukan intimidasi.”
Pendidikan dalam tradisi Islam menekankan tiga aspek utama: penyucian jiwa (Tazkiyatun Nafs), penguatan ilmu (Ta’limul ‘Ilm), dan pembinaan kebijaksanaan (Tarbiyatul Hikmah). Pendekatan ini jauh dari gaya perintah keras dan baris-berbaris yang identik dengan militer.
Madrasah diarahkan menjadi ruang yang membangun relasi emosi, bukan sekadar kedisiplinan teknis. “Guru adalah pembimbing yang menginspirasi, bukan komandan,” kata salah satu peneliti dalam Journal of Islamic Thought and Civilization edisi 2025. Pendidikan Qur’ani, lanjut jurnal itu, mampu melahirkan generasi penuh empati, kritis, dan peduli terhadap lingkungan sosial.
Gagasan para filsuf seperti Plato dan Aristoteles juga menegaskan pentingnya keseimbangan antara etika, civic, dan ilmu pengetahuan. Dalam konteks Matsama, nilai-nilai ini dapat diterjemahkan melalui kegiatan edukatif seperti pelatihan seni, diskusi moral, dan penguatan solidaritas sosial.
Di banyak madrasah, Matsama dikemas dalam format yang menyentuh hati dan mengedukasi. Mulai dari pengenalan adab terhadap guru, kisah-kisah teladan Nabi dan sahabat, hingga kegiatan kebersamaan seperti bakti sosial dan simulasi organisasi siswa.
Aktivitas kreatif seperti seni Islami, permainan edukatif, hingga literasi Al-Qur’an dirancang untuk membangun ikatan emosional dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap madrasah. Semua kegiatan itu dilakukan dalam suasana santai, hangat, dan penuh kasih sayang.
Matsama juga jadi momentum awal menanamkan kepedulian sosial. Beberapa madrasah melibatkan siswa dalam aksi lingkungan dan penggalangan bantuan sosial, sebagai bagian dari pembentukan karakter berakhlak mulia dan cinta sesama.
Matsama 2025 adalah kesempatan emas untuk menunjukkan bahwa pendidikan karakter Islami bisa dijalankan dengan penuh cinta, tanpa intimidasi. Jika pelibatan TNI-Polri tetap dilakukan, sebaiknya dibatasi secara proporsional dan bersifat edukatif-partisipatif, seperti sesi wawasan kebangsaan yang menyenangkan. Bukan sesi yang menakutkan.
Kolaborasi dengan pihak luar harus tetap menghormati otoritas guru dan menjunjung prinsip rahmatan lil ‘alamin. Pendidikan bukan ladang latihan militer, melainkan ladang subur membentuk manusia paripurna secara spiritual, intelektual, dan sosial.
Madrasah hari ini harus menjadi pionir pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai luhur, menjauh dari simbol kekuasaan dan kekerasan, serta merangkul setiap siswa dengan cinta dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Foto: silabus.web.id







