Perundingan AS-Iran Buntu, Selat Hormuz Jadi Titik Sengketa Utama
Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran kembali berakhir tanpa kesepakatan. Salah satu isu krusial yang menjadi penghambat adalah status Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.
Wakil Presiden AS J.D. Vance menyatakan tidak ada hasil konkret dari perundingan yang berlangsung di Pakistan tersebut. Ia mengaku kembali ke negaranya tanpa membawa kesepakatan.
“Tidak ada kesepakatan yang tercapai, dan saya kembali ke Amerika Serikat tanpa hasil,” ujar Vance dikutip, Minggu (12/4/2026).
Perundingan bahkan berlanjut hingga hari kedua pada Minggu (12/4), di tengah situasi gencatan senjata sementara yang sebelumnya disepakati kedua negara. Namun, kondisi tersebut dinilai semakin rapuh seiring belum adanya titik temu dalam isu strategis.
Dari pihak Iran, delegasi dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf. Media Iran menyebut perbedaan pandangan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi salah satu ganjalan utama dalam negosiasi.
Seorang pejabat Iran yang dikutip CNN menegaskan bahwa status Selat Hormuz tidak akan berubah tanpa adanya kesepakatan kerangka bersama.
“Status Selat Hormuz tidak akan berubah kecuali Iran dan AS mencapai kerangka bersama untuk melanjutkan negosiasi,” ujarnya.
Ia juga menilai tuntutan dari pihak AS terlalu berlebihan sehingga memperlambat proses perundingan.
Ketegangan di kawasan meningkat setelah Iran disebut menutup secara efektif Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur penting distribusi minyak mentah, gas alam cair, dan pupuk ke berbagai negara, khususnya di Asia. Dalam kondisi normal, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintasi jalur tersebut.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mendesak Iran untuk menjamin keamanan pelayaran di kawasan itu, menyusul kesepakatan gencatan senjata dua pekan yang dicapai sebelumnya.
Namun, stabilitas gencatan senjata tersebut kembali dipertanyakan, terutama karena Israel masih melanjutkan serangan terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon yang didukung Iran. AS menyebut konflik tersebut tidak termasuk dalam cakupan kesepakatan.
Dalam perundingan yang dimediasi Pakistan, isu Selat Hormuz tetap menjadi agenda utama. Militer AS bahkan mengklaim dua kapal perusaknya telah melintasi kawasan tersebut untuk persiapan operasi pembersihan ranjau, meski hal ini dibantah oleh Iran.
Ranjau yang disebut-sebut dipasang oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran memicu kekhawatiran global, karena dapat menghambat jalur aman bagi kapal tanker meski blokade nantinya dicabut.
Dalam perundingan itu, Vance didampingi utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner. Sementara dari pihak Iran turut hadir Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Hingga kini, belum ada kepastian mengenai kelanjutan perundingan, sementara ketegangan di kawasan Timur Tengah masih terus meningkat. (AD)
Foto : Dok. Xinhua/aa







