Gerakan Ayah Antar Anak: Menggugah Budaya Baru dalam Pengasuhan Keluarga Indonesia
Suasana pagi di SMAN 9 Jakarta terlihat berbeda pada hari pertama masuk sekolah tahun ajaran 2025/2026. Di antara kerumunan siswa dan ibu-ibu yang biasa mengantar anak, tampak para ayah dengan langkah percaya diri menggandeng tangan putra-putri mereka menuju gerbang sekolah. Momen ini bukan sekadar rutinitas awal tahun pelajaran, melainkan bagian dari Gerakan Ayah Mengantar Anak, sebuah inisiatif kultural yang didorong oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) melalui program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI).
Kepala BKKBN sekaligus Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Wihaji, hadir langsung di sekolah tersebut. Ia menyebut gerakan ini sebagai simbol penting dalam perubahan budaya pengasuhan keluarga di Indonesia, dari yang dominan oleh peran ibu menuju pengasuhan yang kolaboratif dan setara.
“Gerakan ini bukan hanya seremoni. Ia merepresentasikan pergeseran nilai dalam keluarga Indonesia. Dari pengasuhan yang terpusat pada ibu menjadi lebih seimbang, dengan kehadiran ayah sebagai figur penting dalam pertumbuhan karakter anak,” ujar Wihaji, Selasa 15 Juli 2025.
Gerakan ini dilandasi oleh Surat Edaran Menteri Nomor 7 Tahun 2025 yang menyoroti pentingnya kehadiran fisik dan emosional ayah di tengah keluarga. Salah satu latar belakang munculnya kebijakan ini adalah fenomena fatherless yang kini menjadi sorotan serius. Berdasarkan data BKKBN, sekitar 20,9 persen anak di Indonesia mengalami fatherless, yaitu kondisi kehilangan figur ayah, baik secara fisik maupun emosional.
Wihaji menjelaskan bahwa absennya sosok ayah kerap meninggalkan dampak psikologis yang mendalam. Anak-anak cenderung kehilangan pegangan dalam membentuk identitas, nilai, dan daya tahan emosional.
“Kita harus akui, zaman sekarang anak SMA pun mulai canggung berkomunikasi dengan orang tuanya. Mereka merasa sudah dewasa dan menjaga jarak. Padahal, kebutuhan akan figur ayah tidak pernah berkurang,” ungkapnya.
Ia juga menyinggung soal penggunaan gawai yang kini menjadi tantangan baru dalam keluarga modern. Berdasarkan survei internal BKKBN, rata-rata anak Indonesia menggunakan ponsel selama 8,5 jam per hari. Akibatnya, terjadi disrupsi komunikasi antar anggota keluarga.
“Hari ini kita seperti hidup bersama keluarga baru: handphone. Anak-anak lebih dekat dengan layar daripada orang tua. Ayahnya ada, tapi tidak hadir,” tutur Wihaji.
Ia mengingatkan bahwa minimnya interaksi dalam keluarga bisa memunculkan generasi rapuh yang disebut sebagai generasi stroberi—tampak manis dan cemerlang dari luar, namun mudah hancur ketika menghadapi tekanan.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Sarjoko, menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam pendidikan karakter anak. Ia menggarisbawahi program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
“Bangun pagi, ibadah, olahraga, makan bergizi, belajar, bersosialisasi, dan tidur tepat waktu ini bukan semata rutinitas sekolah, tetapi nilai kehidupan yang harus dilatih sejak dini di rumah bersama orang tua,” katanya.
Sarjoko menegaskan bahwa sekolah dan keluarga merupakan satu kesatuan dalam membentuk karakter anak. Ia mengajak seluruh orang tua untuk kembali memainkan peran aktif dalam kehidupan sehari-hari anak-anak mereka.
Gerakan Ayah Mengantar Anak bukan hanya tentang sebuah langkah kecil menuju sekolah, melainkan langkah besar menuju pembaruan budaya keluarga Indonesia. Sebuah budaya yang lebih hangat, inklusif, dan hadir dimulai dari hal sederhana: menemani anak di hari pertamanya.
Foto: HO-Kemendukbangga/BKKBN.






