Dakwah Wayang, Kreasi Religius Ramdan Juniarsyah yang Menggugah Ribuan Anak di HAN Jabar 2025

Ribuan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan tumpah ruah di Sport Jabar Arcamanik, Kota Bandung, dalam rangkaian perayaan Hari Anak Nasional (HAN) Provinsi Jawa Barat. Di tengah semarak kegiatan, sebuah pertunjukan unik menarik perhatian: Dakwah Wayang, sebuah kolaborasi seni tradisional dan pesan keislaman, karya inovatif Ramdan Juniarsyah, guru Pendidikan Agama Islam dari SMKN 10 Bandung.

Pertunjukan tersebut memadukan wayang golek khas Sunda, ceramah agama, dan alunan hadrah. Ramdan tampil berinteraksi dengan tokoh legendaris Sunda, Cepot, dalam dialog bernuansa islami yang menghibur sekaligus sarat makna. Tak hanya itu, iringan hadrah dari para siswa menambah semarak suasana.

“Saya ingin Islam dikenalkan dengan cara yang menyenangkan dan membumi. Budaya lokal bisa jadi jembatan yang efektif untuk itu,” ujar Ramdan dikutip, Selasa (5/8/2025).

Berawal dari Kemah Rohis Nasional

Inspirasi Dakwah Wayang muncul pertama kali pada 2016, saat Ramdan mengikuti Kemah Rohis Nasional yang digelar oleh Direktorat Pendidikan Agama Islam. Dalam kondisi serba sederhana, ia bersama murid-muridnya menampilkan ceramah yang dikolaborasikan dengan musik dan wayang golek.

“Tiba-tiba saya terpikir untuk memadukan ceramah dengan musik dan wayang. Responnya luar biasa. Sejak saat itu, saya mulai mengembangkan konsep ini lebih serius,” kenangnya.

Lahirnya Kelompok Dakwah Wayang

Pasca kemah tersebut, Ramdan membentuk grup Dakwah Wayang di lingkungan sekolahnya. Berbekal siswa berbakat di bidang seni – dari karawitan, pedalangan, hingga musik modern – ia mengarahkan mereka untuk menyalurkan bakat dalam konteks dakwah.

“Di sekolah kami ada jurusan seni. Saya hanya memfasilitasi agar potensi mereka bisa membawa manfaat, terutama dalam menyebarkan nilai-nilai Islam dengan cara yang disenangi anak muda,” tuturnya.

Grup ini kerap menampilkan pertunjukan yang memadukan komedi khas wayang, musik tradisional, dan tembang religi, tanpa meninggalkan esensi dakwah.

Menyatukan Budaya dan Spiritualitas

Menurut Ramdan, dakwah yang efektif harus mampu menyentuh nilai-nilai yang telah hidup di masyarakat. Di kalangan masyarakat Sunda, nilai budaya seperti gotong royong dan seni tembang merupakan aset yang bisa menjadi medium dakwah yang humanis dan tidak menggurui.

Namun, ia menegaskan tidak semua budaya dapat langsung digunakan dalam dakwah. “Kalau bertentangan dengan ajaran Islam, tentu kita luruskan dengan pendekatan edukatif,” jelasnya.

Seni sebagai Media Pendidikan Agama

Sebagai guru, Ramdan mengintegrasikan Dakwah Wayang dalam pembelajaran PAI. Ia menekankan pada siswa bahwa dakwah bisa hadir lewat beragam media: ceramah, lagu religi, hingga platform digital.

Ia juga mengaitkan metode ini dengan pelajaran Sejarah Wali Songo. “Mereka (Wali Songo) juga berdakwah dengan pendekatan budaya. Kita tinggal melanjutkan dengan konteks kekinian,” kata alumni UIN Sunan Gunung Djati ini.

Mendapat Dukungan Kementerian Agama

Tampilnya Ramdan di peringatan puncak HAN Jabar 2025 tak lepas dari dukungan Direktorat Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama RI. Ia menyampaikan apresiasinya atas kesempatan tersebut.

“Ini menjadi motivasi besar bagi saya dan para guru PAI lainnya untuk terus berinovasi dalam metode pembelajaran,” pungkasnya.

Melalui Dakwah Wayang, Ramdan Juniarsyah membuktikan bahwa ajaran Islam bisa disampaikan dengan cara yang inklusif, menyenangkan, dan tetap sarat makna. Sebuah langkah kreatif yang menggabungkan seni dan spiritualitas untuk menyapa generasi masa depan.

 

 

 

 

Foto: Kemenag RI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup