Bukan Cuma Bikin Kenyang: Gorengan Saat Berbuka Bisa Memberatkan Organ Tubuh, Ini Penjelasannya!

BANDUNG — Dietisien dari RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung, Yesi Herawati, mengingatkan kebiasaan mengonsumsi gorengan saat berbuka puasa maupun sahur berisiko memberikan dampak buruk bagi kesehatan, terutama karena organ tubuh dipaksa bekerja lebih berat setelah seharian berpuasa.

Yesi menjelaskan, berbuka puasa dengan gorengan dalam jumlah banyak membuat asupan lemak menjadi berlebihan. Kondisi ini, menurut dia, dapat langsung membebani sejumlah organ vital.

“Makan terlalu banyak gorengan saat berbuka atau sahur bisa memberatkan kerja organ tubuh,” kata Yesi, dikutip dari Antara, Minggu (22/6/2026).

Ia menerangkan, organ yang pertama kali terdampak adalah hati. Lemak yang masuk berlebih akan disimpan di organ tersebut. Jika berlangsung terus-menerus, penumpukan lemak dapat berkembang menjadi perlemakan hati, peradangan, hingga berujung pada sirosis dan kanker hati.

Selain hati, jantung dan pembuluh darah juga berisiko terdampak akibat tingginya asupan lemak. Kondisi tersebut dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah, sehingga memicu penyumbatan pembuluh darah.

“Penyumbatan itu berisiko menyebabkan aterosklerosis dan penyakit jantung koroner,” ujarnya.

Yesi menambahkan, pankreas dan kantong empedu juga berpotensi terganggu karena konsumsi lemak berlebih dapat memicu resistensi insulin yang meningkatkan risiko diabetes. Asupan lemak tinggi juga dapat memperberat kerja ginjal karena organ tersebut dipaksa bekerja lebih keras, sehingga berisiko menimbulkan penyakit ginjal kronis.

Dampak lain juga dapat dirasakan pada organ paru-paru. Lemak yang menumpuk, terutama di area perut, bisa menekan diafragma dan memicu keluhan sesak napas.

“Efek lainnya juga dapat terjadi pada sistem reproduksi, yaitu penurunan kesuburan akibat ketidakseimbangan hormon,” kata Yesi.

Tak hanya itu, saluran pencernaan pun ikut terbebani. Menurut Yesi, setelah berpuasa sekitar 12 jam, sistem cerna dipaksa bekerja lebih keras ketika langsung menerima makanan berlemak seperti gorengan.

Ia menegaskan, kebiasaan mengonsumsi gorengan juga sangat berisiko bagi orang yang mengalami kegemukan atau obesitas karena dapat mempercepat terjadinya perlemakan hati.

“Jika berlangsung terus-menerus dan tidak diimbangi dengan asupan serat yang cukup serta aktivitas fisik, maka akan terjadi penumpukan lemak yang berisiko menyebabkan obesitas, penyakit jantung, stroke, perlemakan hati, diabetes melitus, kanker, dan penyakit lainnya,” ujarnya.

Terkait batas konsumsi, Yesi menyebut orang dengan kondisi sehat dan status gizi normal masih boleh mengonsumsi gorengan maksimal dua buah per hari, dengan catatan tidak ditambah menu lain yang diolah dengan cara digoreng atau bersantan.

Sementara bagi orang yang mengalami kegemukan atau obesitas, konsumsi gorengan tidak dianjurkan, namun masih diperbolehkan maksimal satu kali dalam sepekan.

Ia juga menekankan pentingnya menggunakan minyak baru, bukan minyak jelantah, serta tetap menyeimbangkan pola makan dengan asupan serat dan aktivitas fisik.

Sebagai alternatif berbuka puasa yang lebih sehat, Yesi menyarankan masyarakat memulai dengan air putih, kemudian memilih takjil yang mudah dicerna dan membantu mengganti cairan tubuh.

“Bisa dilanjutkan dengan kurma, air kelapa, buah-buahan, atau salad buah yang mengandung elektrolit dan lebih baik untuk metabolisme tubuh,” tutupnya. (AD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup