Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, mengungkapkan stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog telah menembus angka 5.000.198 ton per Kamis, 23 April 2026 pukul 08.55 WIB.
Capaian tersebut disebut sebagai tonggak baru dalam sejarah ketahanan pangan nasional. Amran menegaskan, jumlah stok beras saat ini menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia, khususnya pada periode April.
“Alhamdulillah hari ini, 23 April 2026 pukul 08.55 WIB, stok beras seluruh Indonesia mencapai 5.000.198 ton. Ini pertama kali terjadi sepanjang sejarah,” ujar Amran saat meninjau gudang Bulog di Karawang, Jawa Barat.
Menurutnya, pencapaian ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari Kementerian Pertanian, Bulog, hingga dukungan lintas lembaga seperti TNI, Polri, Kejaksaan, serta masyarakat dan insan pers.
“Perbedaan pendapat itu wajar, tapi kritik harus konstruktif. Jangan sampai menimbulkan disinformasi atau fitnah yang justru merugikan kebijakan pangan kita,” tegasnya.
Pemerintah juga terus memperkuat kapasitas penyimpanan guna mengantisipasi lonjakan produksi. Di Karawang, misalnya, telah disiapkan gudang tambahan berkapasitas 102.000 ton, dengan sekitar 80.000 ton di antaranya sudah terisi dan diperkirakan penuh dalam dua pekan ke depan.
Secara nasional, kapasitas gudang Bulog saat ini mencapai sekitar 3 juta ton. Sementara itu, tambahan gudang sewa telah dimanfaatkan hingga 2 juta ton dan kini hampir penuh. Untuk mengantisipasi peningkatan stok ke depan, pemerintah kembali menambah kapasitas sewa sekitar 1 juta ton.
Amran menilai peningkatan cadangan beras ini tidak hanya berdampak pada ketahanan pangan dalam negeri, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam menjaga stabilitas pangan global.
“Dulu kita sempat impor besar, sekitar 7 juta ton pada 2023–2024. Tapi di 2025 kita berhasil hentikan impor, dan 2026 ini kami optimistis tidak ada impor beras,” ungkapnya.
Untuk menjamin transparansi, pemerintah membuka akses bagi publik untuk melakukan pengecekan langsung ke gudang Bulog.
“Silakan masyarakat cek langsung ke gudang Bulog. Data ini bisa dipertanggungjawabkan secara hukum karena nilainya mencapai Rp55 sampai Rp60 triliun,” jelasnya.
Dalam peninjauan tersebut, Amran turut didampingi Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, serta sejumlah pengamat pertanian. (AD)

